Ironi Kehidupan Jane Austen: Menulis Tentang Cinta tapi Tak Pernah Menemukan Cintanya Sendiri


Dalam setiap karya Jane Austen, cerita selalu diakhiri dengan bahagia: Lizzie mendapatkan Darcy; Elinor bersama Edward; Marianne dengan kolonelnya; Anne dan kaptennya; Catherine dan Henry; Fanny dan Edmund; dan Emma bersama Knightley-nya. Ironisnya, penulis yang membuat mereka bahagia bersama justru tidak pernah menemukan kebahagiaan dalam kehidupan asmaranya. 

Tentu saja Jane pernah punya hubungan dengan laki-laki selama hidupnya. Biar bagaimanapun dia memiliki penampilan yang menarik dan kemampuan berdansa di atas rata-rata--yang menjadi daya tarik saat itu.

Salah satu yang "hampir berhasil" adalah hubungannya dengan pengacara Irlandia miskin, Tom Lefoy. Hubungan Lefoy dan Jane kandas setelah Lefoy memilih untuk menikahi wanita lain yang jauh lebih kaya dari Jane. Sementara saat itu, Jane tidak memiliki apa-apa setelah kematian ayahnya. 

Jane juga pernah berpacaran dengan laki-laki lain di akhir usia 20-an. Dia bertemu dengan laki-laki ini saat bepergian dari kampung halamannya ke daerah yang bernama Bath. Mereka berjanji akan bertemu lagi untuk melanjutkan hubungannya, namun laki-laki ini meninggal sebelum mereka bertemu lagi. 

Kemudian di bulan Desember tahun 1802, Jane akhirnya menerima lamaran dari laki-laki kaya raya bernama Harris Bigg-Wither. Harris adalah teman dari temannya Jane. Awalnya Jane berpikir bahwa dia bisa memperbaiki keadaan ekonomi keluarganya jika menikah dengan Harris. Namun kemudian lari dari kediaman Harris. Setelah itu Jane tidak pernah berhubungan dengan laki-laki mana pun sampai akhir hidupnya. 

Jika pepatah "tulis apa yang kamu tahu dan alami" diterapkan pada setiap karya Jane Austen, seharusnya dia memiliki pernikahan paling menyenangkan dan bahagia di seluruh dunia. Sayang, hidup tidak seasik itu. Kehidupan Jane Austen justru menjadi salah satu ironi paling menyedihkan yang pernah ada. 

Teori Seputar Kehidupan Asmara Jane Austen

Jane Austen Seorang Lesbian

Teori pertama dan yang paling kontroversial adalah asumsi bahwa Jane Austen merupakan seorang lesbian karena itu dia tidak menikah selama hidupnya. Well, jika berkaitan dengan status menikah-tidak menikah, homoseksual memang selalu muncul ke permukaan. Ternyata ini sudah terjadi sejak lama dan bertahan sampai sekarang. Dalam kasus Jane Austen, tuduhan ini ternyata tidak disertai bukti alias hanya tuduhan kosong. 
Kan sudah jelas disebutkan di atas bahwa Jane pernah menjalin hubungan percintaan dengan tiga orang laki-laki yang berbeda dan ini sudah cukup untuk menangkal tuduhan tersebut. Coba pikirkan, jika Jane Austen adalah seorang lesbian, mungkinkah dia menerima ketiga lelaki itu sebagai seseorang yang spesial? 
Jane Austen menjalin hubungan dengan saudari perempuannya

Pada tahun 1995 yang lalu, sebuah teori lainnya muncul. Teori ini mengasumsikan bahwa Jane Austen menjalin hubungan dengan saudara perempuannya yang bernama Cassandra. Di tahun ini, Terry Castle menulis sebuah ulasan yang menjadi kritik atas edisi terbaru kumpulan surat Jane Austen. Dalam esainya, Terry Castle membahas tentang hubungan Jane dan Cassandra yang dianggapnya senang "tidur bersama di satu kasur".

Namun teori ini tidak berangkat dari asumsi kosong seperti yang pertama tadi. Kemungkinan besar teori ini berkembang karena orang-orang seperti Terry tidak dapat menemukan dokumen otentik tentang kepribadian Jane Austen. Dan hal ini disebabkan oleh ulah Cassandra sendiri yang membakar sebagian besar surat-surat Jane Austen untuk saudara perempuannya. 

Saya jadi ingat surat-surat Raden Ajeng Kartini kepada teman-teman di luar lingkungan rumahnya yang kemudian menjadi sumber bagi banyak orang untuk mempelajari pemikiran seorang Kartini. 
Teori ini lagi-lagi terbantahkan karena muncul bukti kuat, yaitu selembar kertas yang menunjukan bahwa orang tua Jane Austen telah memesan satu tempat tidur untuk setiap putrinya. Dan juga diketahui bahwa Cassandra sudah bertunangan dengan seorang laki-laki meskipun tidak sampai menikah karena tunangannya meninggal sebelum mereka menikah. 

Jane Austen terlalu mencintai dunia menulis

Teori terakhir yang muncul adalah anggapan bahwa Jane Austen terlalu mencintai dunia menulis dan memiliki anggapan kemungkinan pria mana pun yang dinikahinya akan membuatnya berhenti menulis. 

FYI, Jane Austen sudah mulai menulis sejak dia berusia 12 tahun sampai meninggal di usia 41. Artinya bisa dikatakan Jane Austen tak bisa hidup tanpa menulis. Bahkan ada yang menganggap jika Jane Austen menikah dengan laki-laki yang memperbolehkan dia menulis, Jane Austen mungkin tidak akan dikenal seperti sekarang. 

Biar bagaimanapun kehidupan rumah tangga--sedikit banyak--akan mempengaruhi kemampuan Jane dalam menulis. Jadi dengan tidak menikah, Jane sudah memberi dirinya sendiri waktu dan ruang untuk mengembangkan bakatnya sampai maksimal. 
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url