Kebebasan Berpendapat di Media Sosial Bagian 2: Bodo Amat adalah Cara Bermedia Sosial Paling Benar

media sosial

Kebebasan berpendapat di media sosial - Mengenai kebebasan berpendapat di media sosial, saya menemukan sebuah utas di Twitter yang menarik. Dalam utas tersebut, penulis utas menyebutkan bahwa setiap konten yang ada di internet adalah milik publik, kalau nggak siap dengan respon netizen jangan di-upload ke internet. Sebuah pernyataan yang nggak salah, namun rasanya masih kurang tepat. 

Memang semua orang bebas berpendapat di media sosial, namun harus tahu batasan-batasan yang nggak boleh dilewati. Dalam tulisan saya sebelumnya saya menulis bahwa “Alangkah baiknya jika kebebasan berpendapat di media sosial, kita tetap memegang teguh norma-norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.” Norma-norma tersebut berperan sebagai garis batas yang nggak boleh dilewati oleh semua pengguna meda sosial, tujuannya agar kehidupan media sosial menjadi lebih tentram. 

Sejatinya, kebebasan berpendapat nggak sama dengan kebebasan menghujat; kebebasan beropini nggak sama dengan kebebasan membully. Nampaknya ini yang sedang terjadi di jagat media sosial. Orang-orang lupa bahwa ada batasan yang nggak boleh dilewati, mereka seperti menemukan tempat baru yang melepaskan mereka dari norma-norma sosial kehidupan manusia. Tapi bukan begitu cara mainnya. 

Banyak yang mengaku menjunjung kebebasan berpendapat tapi nggak bisa menerma pendapat orang lain yang berbeda. Kalau begitu, kebebasan berpendapat seperti apa yang mereka junjung? Menjunjung kebebasan berpendapat berarti mampu menerima pendapat yang berbeda-beda. Yang paling penting: jangan merasa paling benar dengan pendapatmu sendiri. Ngaku open minded tapi kok nggak bisa terima perbedaan pendapat orang lain? 

Kamu boleh mendukung LGBT, menerapkan konsep “hijrah” mu sendiri, mempunyai standar kecantikanmu sendiri, tapi jangan memandang rendah pendapat orang lain yang bertentangan atau berbeda dengan pendapatmu. Masing-masing orang punya cara pandangnya sendiri, dan ini adalah hal yang paling menarik dari kebebasan berpendapat. Buat saya, kebebasan berpendapat yang seperti ini membuat saya nggak perlu menebak apa yang orang lain pikirkan. Lagipula menambah perspektif orang lain terhadap suatu isu bisa membantu saya mendapatkan pemahaman yang lebih luas. 

Melihat yang terjadi di media sosial sangat bertentangan dengan kehidupan sehari-hari, saya pun sampai pada satu kesimpulan: bodo amat adalah cara bermedia sosial yang paling benar sekarang. Kalau kamu nggak bisa menerima perbedaan pendapat, kamu bisa bersikap bodo amat dengan pendapat orang lain. Terserah mereka deh mau mikir gimana, yang jelas gue mikir begini. Ketika berada dalam lingkungan orang-orang egois dan hanya memerdulikan dirinya sendiri, yang bisa kita lakukan adalah beradaptasi atau mengacuhkannya. Beradaptasi berarti kita ikut menjadi bagian dari lingkungan tersebut, sedangkan mengacuhkannya berarti kita membiarkan hal itu terjadi meski ingin menghilangkannya. Bodo amat adalah salah satu cara untuk mengacuhkan lingkungan tersebut.

Tahap yang lebih ekstrim lagi, kita bisa bersikap bodo amat pada apa saja yang sedang terjadi di media sosial. Setiap orang punya arena bermainnya sendiri di media sosial, apa yang terjadi di sana biar saja tetap di sana. Arena bermain yang kita punya masih cukup asik dan menyenangkan, kan? Tahap bodo amat berikutnya adalah melakukan apa yang kita anggap benar tanpa memerdulikan pendapat orang lain. Terserah orang lain mau melakukan apa saja di media sosial, yang penting nggak bertentangan dengan konsep “benar” versi kita sendiri. 

Kamu bisa saja mendebat semua orang yang punya pendapat berbeda denganmu selama kamu punya energi yang besar untuk melakukannya. Tapi menurut saya, melakukan hal itu hanya buang-buang energi yang kamu miliki sih. Anehnya, begitu kebebasan berpendapat mau dibatasi oleh pemerintah, orang-orang kompak menolaknya; tapi waktu nggak dibatasi malah disalah gunakan buat menghujat dan membully orang lain. Jadi yang siapa yang error di sini? Pemerintah atau netizen? 

Nggak ada salahnya bersikap baik di media sosial layaknya yang kita lakukan sehari-hari. Mungkin ini dampak negatif internet yang membuat semuanya serba terbuka dan mudah dicari, atau mungkin memang sebenarnya orang Indonesia aslinya seperti ini saat terlepas dari norma-norma sosial kehidupan manusia.

Sumber gambar: Unsplash.com

---

Artikel ini pertama kali tayang di Website Terminal Mojok dengan judul: Kebebasan Berpendapat di Media Sosial Bagian 2: Bodo Amat adalah Cara Bermedia Sosial Paling Benar – Terminal Mojok

Next Post Previous Post
2 Comments
  • fanny_dcatqueen
    fanny_dcatqueen 9 Oktober 2021 17.50

    Naaaah aku sukaaa pendapat ini :). Setuju kok mas, kebebasan berpendapat itu bukan berarti kita seenaknya aja menghina orang lain. Giliran dikenakan UU pencemaran nama, langsung protes, lah padahal yang dia lakukan memang salah. Aku bberapa kali mem-block teman/keluarga yang berbeda pendapat. Kenapa, ya karena mereka menyatakan pendapatnya sambil memaki2, menghina, pakai kata kasar, yg mana aku ga suka bacanya. Beda pendapat boleh, tapi lakukan secara sopan. Mendukung si A, dan membenci si B, bukan berarti dengan cara memaki2 si B. Tapi KSH tau apa aja kelebihan si A, tanpa menghina lawannya. Itu yang aku baru terima.

    Jadi mohon maaf, kalo ada beberapa temen dan saudara yg aku block dari medsos, ya Krn itu masalahnya. Seandainya mereka sopan dlm berpendapat, aku ga bakal block kok.

    • gilangoktaviana
      gilangoktaviana 10 Oktober 2021 10.03

      Betul mba! Tahun lalu waktu masih sering main twitter aku sampe gamau berpendapat karena males ributnya 😁

Add Comment
comment url