Quarter Life Crisis: Pencarian Jati Diri Fase 2 dan Jalan Keluarnya


Kalau dipikir-pikir, hidup ini bajingan sekali ya. Seenaknya saja nyuruh mencari jati diri dua kali: waktu remaja dan dewasa awal. Memangnya ini perkara gampang? Tapi kembali lagi ke prinsip paling dasar bahwa hidup itu pada akhirnya cuma tentang me-yaudah lah ya-kan banyak hal. Termasuk mencari jati diri tadi. 

Waktu remaja dulu, saya bisa dimasukan ke dalam kategori remaja nakal medioker. Artinya saya nggak berani terlalu nakal tapi nggak cocok dibilang baik. Sebatas udud, bikin nangis guru, jarang pulang ke rumah, rambut gondrong, dan nongkrong-nongkrong pinggir jalan sampai malam lah. Biar begitu teman saya banyak yang nakalnya kelas wahid. Nah menariknya, waktu remaja dulu mau senakal apa pun orang tua--entah guru, tetangga, atau yang di rumah--selalu bilang "wajar namanya juga remaja, lagi proses mencari jati diri". 

Remaja selesai, dewasa awal pun tiba. Saat pertama kuliah saya merasa proses pencarian jati diri saya sudah selesai. Saya punya gambaran siapa saya dan apa yang mau saya lakukan nanti. Taaaaappppiiiii kenapa setelah lulus kuliah saya jadi bingung lagi? Nggak jarang pertanyaan "emang apa yang saya lakukan itu benar?" atau "sudah benarkah saya dalam mengambil keputusan?" dan pertanyaan berbau keraguan lainnya. Katanya fase ini disebut Quarter Life Crisis alias masa pencarian jati diri fase 2 dan semua orang mengalaminya, meski dengan porsi dan/atau pertanyaan yang berbeda. 

Sialnya fase 2 ini jauh lebih berbahaya dariapda fase pertama waktu remaja dulu. Nggak tanggung-tanggung, akibatnya bisa sampai bikin depresi dan nggak semangat menjalani hidup. Selain itu, dulu, sesering apa pun tersesat, masih ada keluarga yang melindungi. Juga masyarakat yang mewajarkannya. Di fase 2 keluarga memang ada dan tetap melindungi, tapi masyarakat nggak lagi mewajarkan. Malah jadi balik menyerang. Ada yang memberikan tatapan sinis, melontarkan candaan sarkas, bahkan mengasihani. Hiks gini amat jadi dewasa ya :")

Beberapa teman menyarankan saya harus bisa menjaga kewarasa. Beberapa lagi menyarankan untuk melatih mental. Sebagiannya bilang saya harus yakin dengan pilihannya. Tapi ada dua orang yang bilang bahwa saya harus "do the best for everything". 

Saya pikir ini masuk akal, toh orang lain nggak peduli pada proses yang saya jalani. Yang mereka lihat hanya seberapa jauh saya dari titik sukses yang ideal menurut mereka lalu kemudian berasumsi bahwa saya mungkin nggak akan bisa sampai ke titik itu. 

Well… bodo amat dengan hal itu. Rasanya saya harus mulai belajar buat semakin bodo amat dan cuek biar bisa tetap survive.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url