Toxic Friendship... Emangnya Beneran Ada, Ya?


Sebetulnya, kalau boleh jujur, saya nggak terlalu yakin toxic friendship atau toxic friend itu beneran ada. Biar bagaimana pun, saat kamu sendirian dan nggak ada lagi yang mengingatmu, teman sebrengsek apa pun bakal diterima juga. Apalagi jika kamu masuk ke dalam golongan "orang yang dicari setelah nggak ada orang lagi". Saya yakin, kamu akan merasa bersyukur punya teman yang brengsek. Seperti saya ini. 

Kalau dipikir-pikir, saya ini masuk ke tingkat terendah dalam hirarki pertemanan karena nggak punya banyak hal buat ditawarkan. Nah jangan salah ya, pertemanan adalah sebuah kegiatan jual-beli manfaat antara manusia yang kebetulan bertemu di satu tempat, misal sekolah atau tempat kerja. Semakin banyak manfaat yang seorang manusia tawarkan, semakin banyak temannya. Vice versa. 

Kalau kamu bisa memberikan waktu, tenaga, uang, dan popularitas pada manusia di sekitarmu, saya yakin kamu bakal punya banyak teman. Tapi kalau kamu cuma bisa menawarkan satu dari empat hal di atas kemungkinan besar kamu bakal jadi orang terakhir yang mereka cari. 

Kata sehatq.com, katanya toxic friend adalah teman yang nggak memberikan kontribusi positif dalam hidupmu. Kalau melihat definisi ini, bisa jadi semua teman saya masuk ke dalam kategori toxic karena mereka kadang datang saat sedang berada dalam kondisi yang tidak stabil, kesel, nggak ada kerjaan, butuh hiburan apa saja. Ya, mereka justru datang dengan segala emosi negatifnya--yang sangat mungkin menular pada saya. 
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url