When You're Gone #3: I walked and reminiscing you

jalan
sumber: unsplash.com

Jika kamu sedang bosan, cobalah berjalan kaki. Tak perlu lama-lama, cukup 15-30 menit saja dan kamu mungkin akan merasakan banyak hal saat berjalan itu. Bila bingung menentukan tujuan, jangan terlalu dipikirkan. Ikuti saja kemana kakimu melangkah, atau coba berkeliling di sekitar rumahmu. Menelusuri jalan-jalan yang sering kamu lewati saat masih kecil—jika kamu tidak sedang merantau—atau berjalan di gang yang menghubungkan setiap RT di sekitar situ.
 
Sejak dulu aku senang berjalan kaki, kau tau itu, kan? Biasanya aku selalu menganggap berjalan sebagai olahraga karena aku sangat jarang sekali sengaja berolahraga. Setiap berjalan aku bisa memikirkan apa saja: baik yang konkrit atau absurd. Aku bisa menemukan ide untuk tulisan, konten di instagram, diksi untuk caption, bahkan—sialnya—sampai kenangan tentangmu. Sepertinya berjalan dan perpisahan denganmu bukan kombinasi yang bagus buatku.

Baru tadi sore aku pergi ngabuburit sambil jalan kaki, sekalian mau setor tunai ke ATM. Perkiraanku, ngabuburit itu bakal makan waktu sekitar 20-30 menit. Dan memang seperti itu nyatanya. Sebenarnya jarak dari rumah ke ATM tidak terlalu jauh. Biasanya hanya butuh waktu 15 menit paling lama untuk pergi ke sana. Tapi itu jika aku berjalan dengan kecepatan biasa—yang kau sebut setengah berlari itu. Sore ini aku sengaja berjalan dengan lambat, mengambil rute terjauh, dan lebih sering menengokan kepala melihat sekitarku. Sial sekali, keputusan ini ternyata mengantarkanku pada kenangan bersamamu.

Sepanjang perjalanan tadi, aku mengenangmu dengan sangat baik. Aku memutar ulang setiap pertengkaran yang kita bicarakan sebelum putus; aku juga menyesali setiap keputusan bodoh yang kubuat dan mengantarkan hubungan kita pada titik akhirnya; aku menyalahkanmu, menyalahkan diriku sendiri, dan mencoba berdamai dengan semua itu. Pada akhirnya, yang terjadi sudah tidak bisa diulang lagi dan aku sedang sendiri sekarang. Kamu apa kabar?

Setelah berjalan kaki tadi aku akhirnya tau apa yang aku inginkan. Bukan kembali bersamamu, bukan pula memaksamu menghilangkan keinginanmu—yang selalu kuanggap egois juga tidak masuk akal—itu. Aku hanya ingin tau kabarmu hari ini, besok, dan juga seterusnya. Receh memang kalau dipikir ulang. Permintaan seperti itu rasanya membuatku terlihat tidak terlalu mementingkan hubungan kita. Ya, kan? Tapi apa lagi yang harus aku pinta jika aku sudah mengambil setengah dari waktumu selama ini? Kurasa aku cukup tau diri untuk tidak minta macam-macam padamu sekarang.

Aku jelas merindukanmu. Biar bagaimanapun, mengetahui kamu ada membuatku tenang dan genap. Tidak kosong seperti yang kurasakan sekarang. Ada satu bagian dalam hidupku yang tiba-tiba hilang saat berpisah denganmu. Seperti air yang menguap. 

Kamu apa kabar? Semoga baik-baik saja, ya :)
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url