When You're Gone


I Always needed time on my own
I never thought I’d
Need you there when I cry

Hari ini, jika aku tak salah ingat, sudah satu bulan sejak kamu menyatakan keinginanmu. Satu-satunya keinginan yang mengubah jalan cerita kita berdua. Tidak ada lagi mimpi-mimpi yang ingin dicapai, tidak juga dunia kita yang terasing atau berbeda, tepatnya, dengan orang lain.

Bagiku awalnya, keinginanmu seperti sebuah lelucon—bahkan temanku tertawa terbahak-bahak saat aku menceritakannya—namun akhirnya keinginanmu memang bukan lelucon. Ia nyata dan berasal dari pemikirian juga kesadaranmu. Kamu tidak sedang bercanda dan menyatakannya dengan tekad yang bulat. 

Jangan kamu pikir aku tak ingin menganggap bahwa kamu sedang berbohong, Aku selalu berpikir bahwa kamu mungkin berbohong atau itu hanya keinginan sesaatmu saja. Karena aku tau, kamu satu-satunya orang yang tau dan mengerti bagaimana aku hidup dan kehidupanku. 

Kupikir saat dulu kita kembali setuju memulai sekali lagi semuanya, kita sudah sepakat tentang titik akhir cerita kita. Kupikir kamu benar-benar mengerti tentang keinginanku. Kupikir kamu benar-benar memahami saat aku bilang aku butuh waktu untuk sampai ke tujuan utama kita. Kupikir aku mempunyai privilese dengan memilikimu. Kupikir aku memiliki semua waktu kita. Yang terjadi justru sebaliknya. 

Kamu bukan sepakat, hanya mencoba berdamai dengan keinginanku. Kamu bukan mengerti, hanya ingin coba memberiku kesempatan. Kamu bukan memahami, hanya terlalu takut untuk sebuah perpisahan. Dan tentu saja privilese yang aku bayangkan, juga semua waktu kita, hanya bayangan semu, Tidak bisa dan tidak akan pernah menjadi nyata. 

And the days feel like years when I’m alone
And the bed where you lie
Is made up on your side

Sekarang, setelah semua yang terjadi, aku di sini. Mencoba memelihara setiap fragmen kenangan yang kita buat selama setengah dari umurku ini. Terlalu banyak jika harus kusebutkan satu persatu daftarnya, namun baiklah akan aku coba semampunya. 

Aku ingat pernah membaca bahwa cinta bukan hanya tentang perjuangan, tapi juga tentang lagu, tempat, makanan, transportasi umum, lagu, film, dan hal-hal remeh yang ada di hidup seorang manusia. Dan hidup lama bersamamu membuat setiap hal remeh yang kupunya hanya berisi tentangmu. 

Setiap lagu yang ada dalam playlist spotify-ku, setelah kuingat kembali, ternyata merupakan lagu yang kita sepakati enak untuk didengar. Setiap tempat yang aku datangi di kota kecil ini, mengingatkanku padamu. Setiap makanan yang aku lihat di sepanjang jalan, mengingatkanku pada keinginanmu untuk membeli semuanya. Bahkan film yang kusuka pun mengingatkanku pada perdebatan kecil kita tentang mana yang lebih baik, seleraku atau seleramu. Dan bagaimana caranya aku melewati semua ini?

Aku tak pernah mengetahuinya.

When you walk away
I count the steps that you take
Do you see how much I need you right now?

Setelah kita berpisah, awalnya aku selalu melihat akun media sosialmu dengan harapan kamu akan melihatnya sebagai sinyal bahwa aku sedang merindukanmu. Dan itu memang berhasil, aku—setidaknya—kembali mendengar suaramu sekali lagi. Saat itu, harapanku yang sudah redup, menyala terang kembali. Seperti langit yang kembali cerah setelah hujan turun. Seperti mood yang kembali baik setelah mendengar lagu favorit.

Yang paling ironis adalah aku berpikir bahwa kamu tau aku benar-benar membutuhkanmu untuk tetap menjadi diriku.

When you’re gone
The pieces of my heart are missin’ you
When you’re gone
The face I came to know is missin’, too
When you’re gone
The words I need to hear
To always get me through the day
And make it okay
I miss you

Aku tidak pernah membayangkan masa depanku tanpa kamu. Seingatku, saat dulu kamu menanyakan hal ini aku menjawab dengan gelengan kepala. Aku tidak tahu. Berapa kali pun kamu bertanya, jawabanku tetap sama. Karena bagiku, kamu adalah awal dan akhir. Namun hidup memang tidak bisa berjalan seperti itu, ya kan? 

Andai—ah aku benci menuliskan hal ini—seandainya nanti ada waktu kamu mengubah keinginanmu, atau setidaknya menundanya, aku akan dengan senang hati mendengarnya dan menjadi orang pertama yang menyambutmu kembali. Kupikir aku berhak menyalahkanmu untuk setiap kenangan yang tiba-tiba muncul satu bulan ini. Rasanya aku juga berhak marah padamu karena membuatku kehilangan arah dan tujuan. Meski aku tau, sebenarnya kita berdua adalah korban. Entah siapa pelakunya. Aku sudah tidak punya energi dan semangat untuk memikirkannya. Just let it be

I’ve never felt this way before
Everything that I do
Reminds me of you

Mungkin kamu akan tertawa jika tau tentang hal ini, tapi biarlah. Mungkin ini akan menjadi lelucon terakhirku yang kamu tertawakan. Begini, sejak kita putus, aku selalu berusaha mencari lagu yang tepat untuk menemaniku mengingatmu. Dan ajaibnya, setiap lagu yang kupilih adalah playlist yang sering kita mainkan saat akustikan dulu. Aku sedang mencari lagu untuk menemaniku mengingatmu, bukan yang mengingatkanku padamu. Dan aku tetap mencari sampai akhirnya temanku mengingatkanku pada lagu When You’re Gone milik Avril Lavigne. Lagu ini pula yang menemaniku menulis tulisan ini—kucari versi akustiknya dan memutar ulang sebanyak yang kumau.

And the clothes you left, they lie on the floor
And they smell just like you
I love the things that you do

Jika bisa, aku ingin menghilangkan bagian otaku yang mengingatmu. Sayangnya itu tidak mungkin dilakukan. Karena itu akhirnya aku memilih berdamai dengan semua kenangan kita. Kupikir, kamu sampai kapanpun tidak bisa hilang dari hidupku. Jika tidak sebagai pasangan, cukuplah sebagai kenangan. Doakan aku agar setidaknya bisa segera merealisasikannya. 

Merindukanmu, saat ini, menjadi sangat sulit. Setidaknya bantu aku dengan doamu.

When you walk away
I count the steps that you take
Do you see how much I need you right now?
When you’re gone
The pieces of my heart are missin’ you
When you’re gone
The face I came to know is missin’, too
When you’re gone
The words I need to hear
To always get me through the day
And make it okay
I miss you

We were made for each other
Out here forever
I know we were
And all I ever wanted was for you to know
Everything I do, I give my heart and soul
I can hardly breathe; I need to feel you here with me

Seperti Avril, aku pernah menganggap kita diciptakan untuk menjadi satu. Aku dan kamu. Dan baru kusadari saat ini, mungkin ini mimpi terindah yang pernah kumiliki sekaligus dosa terbesarku. Aku yang naif dan mengacuhkan begitu banyak perbedaan di antara kita. Sekarang, entah aku beruntung atau sedang sial, aku sudah menyadari semuanya. Dan sebenarnya kita memang tidak bisa menjadi satu. Haha lucu ya? 

Setelah putus, aku seperti kehilangan arah. Lalu aku ingat, seorang teman baiku pernah berkata bahwa dia menulis agar tetap menjadi waras. Akhirnya, aku mengumpulkan niat dan tenaga untuk menulis tentang kita berdua; tentang yang aku rasakan dan pikirkan; tentang semua kesedihanku yang tak bisa kuubah menjadi air mata dan hanya menimbulkan kekosongan. 

Yang aku lakukan saat ini awalnya adalah untuk kita berdua. Sekarang setelah kamu pergi, aku tidak bisa berhenti mencari alasan lain untuk melanjutkannya. Beberapa yang kupikirkan adalah mungkin ini yang bisa kulakukan saat ini untuk tetap hidup dan menjadi manusia. Mungkin ini juga yang tersisa darimu dan bisa aku genggam sepenuhnya. Jika aku lepaskan, apa lagi yang tersisa darimu dalam hidupku? 

Kupikir kamu memang jahat sekali, pergi setelah aku memutuskan berjalan untukmu. Harusnya kamu tau, seumur hidupku aku hanya memikirkan diriku sendiri. Kamu, satu-satunya orang yang bisa kupikirkan selain diriku. Jujur saja, sampai saat ini aku masih belum bisa menerima keinginanmu yang terakhir itu. Karena bagiku, itu bukan keinginanmu sepenuhnya. Karena aku tau, kamu terlalu mengerti keadaanku dan keinginanmu itu terlalu egois bagiku.

Meski begitu, aku mencintaimu, dan masih akan mencintaimu.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url