Aku Memang Tidak Bisa Membencimu dan Aku Mensyukurinya

Kupikir membencimu setidaknya akan membuatku lebih mudah melupakanmu, nyatanya tidak begitu. Mencintai dan menyayangimu memang sulit, tapi membencimu jauh lebih sulit lagi. Aku tidak membencimu dan aku mensyukurinya.

Kemarin, aku menulis ada banyak asumsi yang muncul di kepala tentang keputusan dan pilihanmu. Sejak itu, aku mencoba menghentikannya. Aku benar-benar tidak mau membencimu.

Kamu berhak menentukan sendiri keputusan untuk hidupmu. Kamu juga berhak memilih setiap pilihan yang ada di depanmu. Selama itu bisa membuatmu bahagia, kupikir aku tak punya hak merenggutnya. Denganku, kamu tak juga bahagia. Mungkin dengan begini, bahagia akan kamu dapatkan.

Aku tidak bisa membencimu dan aku mensyukurinya. Membencimu berarti meluaakanmu. Satu hal yang tak pernah aku inginkan. Selama Tuhan belum menunjukan takdir-Nya, aku masih ingin merawat ingatan tentangmu. Sebisa mungkin hidup berdampingan dengannya.

Karena kupikir, saat aku bisa melakukannya, hidupku akan lebih tenang—semoga. Aku memikirkan lagi setiap alasan yang kamu ucapkan, kupikir kamu hanya ingin ditemani. Sayang bukan olehku. Tapi tak apa.

Aku memutuskan untuk memasrahkan takdir kita pada-Nya. Baik atau buruk, terserah Tuhan. Aku hanya minta, tolong kuatkan aku jika takdir-Nya akan membuatku jatuh untuk yang ketiga kalinya. Tanpa campur tangan-Nya, aku tidak akan mampu bangkit lagi.

Secepat apa pun takdir-Nya tiba, kuharap aku sudah siap jika waktunya tiba. Begitu pun denganmu.

Neng, pandemi semakin gila saja. Curva tak kunjung melandai, tapi pemerintah masih menganggap semua baik-baik saja. Aku tak ingin memusingkan alasan mereka bersikap seperti itu. Yang aku khawatirkan adalah kamu. Kamu tak sering keluar rumah, kan?

Linimasa twitter menjadi tempat yang mencekam. Tak bisa dipungkiri, mental dan emosiku sedikit terganggu. Di daerah lain, fasilitas kesehatan kolaps. Di sini, ambulance lebih sering lewat daripada biasanya.

Aku selalu berdoa, semoga kamu diberi kesehatan untuk selamat dari pandemi yang gila ini. Meski kadang, aku suka membayangkan apa yang akan terjadi jika salah satu dari kita gagal bertahan. Membayangkannya saja sudah membuatku nelangsa. Aku selalu berdoa bayangan itu tidak pernah jadi kenyataan.

Neng, tolong jaga kesehatan, jaga pikiran, jaga kesehatan mentalmu. Jangan keluar rumah jika tak terlalu penting. Kalau harus, gunakan dua masker. Sesak sebentar tak masalah, bukan?

Aku minta maaf untuk perpisahan terakhir kita.
Aku tidak membencimu.
Selamat tidur, Neng :)
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url