Merasa Cukup dan Menurunkan Ekspektasi

Sejak lulus kuliah aku sudah mulai mencari penghasilan dari internet. Kebanyakan yang berhubungan dengan menulis, karena memang itu yang aku bisa. Yang namanya penghasilan, jelas jumlahnya nggak pernah tetap. Kadang sebulan bisa dapat 500rb lebih, kadang cuma cukup buat beli kuota dan rokok selama sebulan. 

Tapi aku selalu merasa cukup.

Kehidupanku saat itu tidak dipenuhi dengan beban pikiran untuk mencari uang lebih banyak dan lebih banyak lagi. Maksudku, aku hanya menjalani rutinitas dengan merasa rezeki yang aku miliki sudah cukup. 

Lagipula sejak kecil aku sudah terbiasa nggak memiliki banyak keinginan. Aku lebih fokus pada yang aku miliki. 

Dua-tiga tahun lalu, aku merasa notebook acer AOD270 berusia hampir 10 tahun dan smartphone redmi 4x dengan Ram 2GB mampu mengakomodir keperluan pekerjaanku.

Aku merasa hidupku sudah stabil dan baik-baik saja. 

Tapi aku lupa, penghasilanku hanya cukup untuk diriku sendiri. Padahal saat itu, aku sudah bersama denganmu. Aku terbuai karena kamu terlalu takut untuk memacuku menjadi laki-laki yang lebih baik. 

Aku tau, sejak dulu kamu sangat ingin memintaku melakukan banyak hal. Beberapa di antaranya mungkin untuk masa depan kita berdua. Tapi kamu terlalu takut mengutarakannya, kamu takut aku marah dan kamu takut kita bertengkar.

Aku tidak menyalahkanmu. Hidupku memang sudah sendirian sejak dulu. Aku tak pernah memiliki target yang muluk-muluk untuk diriku sendiri. Aku mengalir mengikuti aliran air. Tenang, damai, sangat minim ushaa. 

Sekarang, di usiaku yang sudah tak lagi remaja, aku dihadapkan pada banyak tuntutan. Bukan hanya soal hidup, tapi juga kita. 

Aku menyayangimu, dan kuyakin kamu tahu itu. Tapi sayang tidak cukup untuk membayar wedding organizer, cicilan rumah, catering, mas kawin, seserahan, dan tentu saja masa depan. Apalagi sayang yang kuberikan, tidak dibarengi usaha yang maksimal. 

Kupikir setiap wanita akan jadi realistis saat waktunya tiba. Mereka juga menginginkan hidup yang tenang, aman, terjamin. Bahagia dan cinta bisa dibangun setelah kehidupanmu tenang. Kamu bisa lebih lama hidup, jiga kehidupanmu aman. Dan kamu bisa menikmati waktu bersama pasanganmu saat hidupmu terjamin.

Telat kah aku menyadari semua ini? 

Aku nggak tahu. Tapi kupikir nggak ada salahnya aku mencoba bangkit sekali lagi. Melakukan yang harus aku lakukan sejak dulu. Entah usahaku kali ini akan berakhir untuk siapa. Mungkin kamu, jika Tuhan mengijinkan. Mungkin juga orang lain. 

Jika bukan kamu, percayalah, peranmu sangat besar untuk wanita setelahmu nanti. Rasanya aku harus menyuruh calon pasanganku berterima kasih padamu nanti. Namun akan lebih baik jika aku berterima kasih padamu langsung, setiap hari, setelah bangun tidur dan mengecup keningmu. 

Atau malam hari, di antara deru nafas kita berdua dan peluh keringat yang mengucur deras. Di antara nafsu yang memburu. 

Ah, tapi bisa apa aku saat ini? Bisa bertahan hidup saja syukur alhamdulillah. Mungkin ini saatnya aku belajar merasa cukup kembali dan menurunkan ekspektasi. Kupikir aku harus mencari seseorang yang setara denganku dari segi apa pun.

Tulisanku malam ini masih dihiasi penyesalan di dalamnya, dan kurasa akan seperti ini untuk beberapa waktu ke depan. Semoga aku bisa berdamai dengan penyesalan ini, kembali hidup, dan menghapus pikiran aneh yang selalu kamu khawatirkan sejak dulu.

Selamat malam, Neng.
Be safe :)
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url