Metamorfosis Rambut: Mengusahakan Mimpi Punya Rambut Gondrong

Pengalaman Punya Rambut Gondrong

Kata orang, nggak banyak orang yang bisa mewujudkan mimpinya dalam hidup karena satu dan lain hal. Kalaupun ada, hanya segelintir orang yang bisa. Beberapa diantaranya adalah mereka yang punya privilese, sisanya manusia tangguh yang mau memperjuangkan mimpinya. 


Saya nggak termasuk ke dalam golongan orang yang berhasil mewujudkan mimpinya. Meski begitu ada satu mimpi yang berhasil saya wujudkan, yaitu punya rambut gondrong. Serius, ini mimpi saya sejak masih suka ngirim salam ke gebetan lewat radio. Bisa dibilang, buat mimpi yang satu ini saya berhasil jadi orang tahan banting. 


Alasannya, sejak masih pake seragam putih biru, saya sudah sering manjangin rambut. Padahal di sekolah aturannya rambut cowok nggak boleh lewat dari telinga. Kalau melanggar siap-siap dicukur sama bapak guru.


Dan alhamdulillah saya jadi pelanggan tetap jasa cukur rambut guru di sekolah. Ini bertahan dari SMP sampai SMA. 


Waktu kuliah seharusnya saya bisa kayak temen-temen yang lain. Gondrongin rambut karena sudah bebas dan nggak kenal razia rambut lagi. Tapi apa daya, nasib baik nggak memihak saya. Karena saya masuk di fakultas pendidikan, otomatis haram hukumnya punya rambut gondrong.


Pernah deng sekali saya coba nggak potong rambut selama satu semester, tapi pas mau UAS dimarahin dosen dengan ancaman nggak diperbolehkan ikut UAS. Ya terpaksa menyerah, dong. 


Baru setelah lulus dan mendapat kebebasan yang haqiqi, saya bisa gondrongin rambut. Itu pun delay dulu selama dua tahun. Nggak apa-apa juga, sih. Yang penting sudah kesampaian mimpinya kan. Wkwkwk


Pengalaman punya rambut gondrong

Niat gondrongin rambut pertama kali muncul saat pandemi datang. Tepatnya bulan Mei 2020. Waktu itu saya cukup parno untuk keluar rumah dan memilih nggak kemana-mana. Pokoknya kalau nggak penting-penting amat, mending diem di rumah. 


Sialnya, rambut saya ketika pandemi mulai sedang jelek-jeleknya karena potongan rambut yang nggak jelas. Apes betul saat itu, perkara potong rambut saja mesti gagal. Dengan didorong rasa jengkel dan muak melihat rambut sendiri, akhirnya saya memutuskan buat ngebotakin rambut. 


Yes, say it louder: B O T A K


Seingat saya, buah dari kekesalan itu adalah rambut sependek satu centi rata. Mirip tentara dan anak STM yang baru masuk. 


Awalnya nggak ada niat sama sekali gondronging rambut, tapi suatu hari tiba-tiba kepikiran, kayaknya kalau mulai dari botak, rambut gondrong saya bakal jadi bagus dan rata panjangnya. Jadi bagian depan, belakang, kiri, kanan, dan atas rambut saya sama panjangnya. 


Asumsi ini yang bikin saya mantap memanjangkan rambut. Dan asumsi itu jadi kenyataan. hehehe. Thanks aku karena udah sotoy. 


Saat botak, nggak banyak hal seru yang saya alamin sih. Gitu-gitu aja. Yang paling berkesan, sih, mungkin nggak perlu repot nyisir sama irit shampoo. Buat keramas, saya hanya perlu menghabiskan seperempat sampai setengah isi shampoo sachet yang dijual di warung. Habis mandi pun nggak perlu nyisir. Dikeringin doang. 


Nggak enaknya, saya harus bisa menjaga kepercayaan diri. Karena rambut botak itu kan rawan kena ejek temen sendiri ya. Apalagi kadang suka ada temen saya yang pegang-pegang rambut, dan itu dia lakukan dengan alasan yang menurut saya nggak masuk akal. 


Butuh waktu sekitar 4 sampai 6 bulan agar rambut saya naik level ke tingkat yang “normal”. Yah seperti rambut cowok pada umumnya, lah. Tipikal rambut OSIS dan Bapak Guru. 


Di fase ini, saya sudah mulai rajin keramas. Mungkin bisa sehari sekali biar cepet gondrongnya. Dan saya juga mulai nyisir rambut. Wkwkwk. 


Sekitar 8 sampai 9 bulan setelah botakin rambut, saya mulai masuk ke fase yang paling menyusahkan: gondrong nanggung. 


Iya, rambut saya saat itu nggak masuk ke kategori panjang atau pendek. Mau diiket belum bisa, tapi kalau dibiarin pasti ngehalangin mata. Akhirnya, saya memutuskan buat berteman baik dengan yang namanya bando. 


Di fase ini, bando adalah kunci. Tanpa bando rambutku acak-acakan selalu. Dengan bando semua selesai. 


Jangan salah, fase gondrong nanggung ini juga bisa jadi filter siapa cowok yang niat gondrongin rambutnya kuat banget dan siapa yang enggak. Beberapa teman saya menyerah di fase ini. Mereka bilang: “nggak kuat, gerah banget”. Padahal itu ujian sebenarnya dan memang cukup sulit dilalui. 


Coba kamu bayangin, di siang hari saat matahari lagi on fire manasin planet kita ini, kamu harus keluar rumah dengan rambut yang cukup panjang tapi nggak bisa diiket. GERAHNYA LUAR BIASA. Bahkan bando pun kadang nggak bisa membantu. 


Tapi kalau bisa kuat bertahan selama satu sampai dua bulan, bisa mendapatkan kemenangan sejati. 


Ibaratnya, gondrong nanggung itu puasa. Saya nggak bisa ngikat rambut dan nggak bisa ngatur rambut seenaknya. Nah gondrong beneran jadi lebarannya. Saya bisa ngikat rambut meski masih sulit ngaturnya. Tapi kalau harus ngebandingin, jelas lebih baik kan?


Sebenarnya mengikat rambut gondrong adalah sebuah usaha untuk meminimalisir keribetan mengurusnya. Ya bayangkan saja, untuk menjaga rambut tetap baik dan enakeun saya harus keramas dua hari sekali. Lebih dari itu, kepala jadi terasa berat karena rambut berminyak.


Beruntung, setelah bisa diikat saya seringkali mandi tanpa membasahi rambut. Wkwkwk. Jadi sebelum masuk ke kamar mandi dan gebyur-gebyur ngabisin air, saya mengikat rambut dengan sangat kuat. 


Bukan saya jorok atau nggak memerhatikan kebersihan rambut, tapi mengeringkan rambut gondrong yang basah itu sama lamanya dengan menunggu dia balas chat kamu. Mau pakai hair dryer juga nggak punya. Dikeringin pakai handuk, nggak terlalu efektif. Kalau pakai kipas angin bisa masuk angin.


Jadi ya daripada ribet mending nggak usah dibasahin sekalian. 


Namun dibalik itu semua, ada satu penderitaan yang cukup mengganggu saya kemarin. Karena terlalu panjang, biasanya saat makan ada satu-dua helai rambut yang masuk ke dalam mulut alias kemakan. Pernah juga rambut saya masuk ke dalam kuah bakso saat saya makan di luar dan lupa membawa ikat rambut.


Kalau dihitung-hitung lagi, perlu waktu 16 bulan untuk menggondrongkan rambut saya jika dimulai dari botak. Itu pun belum gondrongnya cuma sampe sebahu. Mungkin butuh waktu dua tahun lebih jika saya ingin punya rambut se-tonggong.


Biar nggak penasaran, saya mau liatin gimana metamorfosis rambut saya selama setahun terakhir. Narsis dikit gapapa ye, kan blog sendiri. Wkwkwkwk


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url