Jaklingko: Best Part of Jakarta

Jaklingko: Best Part of Jakarta

Benar dugaan saya, menulis pengalaman-pengalaman di Jakarta nggak akan jadi mudah. Niat awalnya saya mau rutin nulis tiap pulang kerja namun rebahan lebih menggoda.

Yah setiap pulang saya harus nyuci piring dan gelas yang kotor, bikin nasi buat makan, beli lauknya, kadang nyuci juga. Semua itu tentu memerlukan tenaga cukup banyak jadi setelah selesai biasanya saya rebahan.

Oke, itu cuma pembelaan saya saja. Alasan utamanya sudah jelas: niat saya belum cukup kuat buat menulis. Wkwkwk tapi buat yang satu ini saya pikir wajib banget ditulis. Sebagai rasa terima kasih dan syukur saya ke ibu kota.

Sejak kecil saya sudah jadi angkoters sejati, meski harus berangkat lebih cepat karena di Ciamis angkot sering ngetem lama. Tapi saat naik angkot saya nggak perlu melakukan apa-apa lagi, tinggal duduk manis sambil dengerin lagu.

Ketika rencana WFO muncul, saya sudah meniatkan diri untuk jadi angkoters di Jakarta. Alasannya biar hemat pengeluaran transportasi. Saya kira dulu seenggaknya harus nyiapin budget 100ribu per bulan buat bayar angkot. Dengan asumsi ongkos angkot 3ribu sampai 4ribu sekali naik.

Jakarta memang menyimpan segudang misteri, termasuk untuk urusan angkot. Perkiraan saya meleset jauh sekali. Ternyata di Jakarta naik angkot bisa gratis tis tis karena ada armada Jaklingko di sini. Bagi saya, Jaklingko itu best part of Jakarta!

Kapan nyampe Ciamis ya? Wkwkwk

Oke, begini keunggulan Jaklingko yang menurut saya harus segera diterapkan di semua kota di Indonesia.

Pertama, cepat. Iya angkot berwarna merah ini bisa dibilang anti-ngetem. Proses naik turun penumpang sangat cepat dan teratur karena ada aturan yang mengharuskan angkot berhenti di rambu pemberhentian saja.

Jadi nggak ada lagi penumpang yang naik dan turun di sembarang tempat. Kadang ini yang bikin macet kan. Nggak jarang tuh penumpang turun di tempat yang ramai dengan alasan sudah sampai di tempat tujuan.

Saat naik Jaklingko berarti kamu harus siap jalan kaki kalau nggak ada rambu pemberhentian di dekat tempat tinggalmu. Begitu pun saat naik. Buat saya sih oke-oke aja, sama seperti olahraga malah.

Supir juga dilarang ngetem atau menunggu penumpang terlalu lama. Jika ada penumpang yang naik nggak di rambu pemberhentian, supir wajib membiarkannya. Saya pernah iseng ngobrol sama supir Jaklingko, katanya mereka nggak harus ngasih setoran dan mereka juga menerima gaji. Per hari pun nggak ada target harus narik sekian penumpang.

Para supir hanya harus bekerja sesuai jadwal yang sudah ditentukan saja. Biasanya satu angkot dipegang oleh dua supir yang dibagi jadi shift pagi dan malam. Sebuah terobosan baru yang harus dicontoh pemerintah daerah lain. Biar semua supir angkot seenggaknya bisa naik kelas, bukan cuma UMKM aja ye kan. Hehe

Di masa pandemi ini, Jaklingko membatasi jumlah penumpang mmaksimal 5 orang saja. Nggak bisa lebih dari itu. Nggak ada supir yang nakal dan nggak ada penumpang yang maksa naik. Semua mengikuti peraturan. Saya pikir ini efek dari pendapatan supir yang sudah pasti.

Iya kan?

Di Ciamis, supir angkot harus menyerahkan setoran setiap hari kepada pemilik mobil. Dengan waktu operasional yang sebentar saja, kira-kira sampai magrib, jumlah penumpang nggak bisa terlalu banyak. Apalagi masa pandemi gini, kan.

Pembatasan jumlah penumpang bagi supir angkot di Ciamis sama saja dengan pengurangan jumlah pemasukan. Yang menerapkan aturan nggak mesti mikirin nyari duit ke mana karena sudah punya gaji. Lah supir angkot gimana?

Mengerti maksud saya, kan?

Yang kedua, jalur Jaklingko ini ada di Gmaps! wkwkwk ramah pendatang baru seperti saya! Coba deh kamu buka Google Maps, lalu pilih satu nama di Jakarta yang paling kamu ingat, apa saja, bebas.

Setelah itu, pilih satu nama daerah lain dan klik tombol "direction" yang ada di Google Maps. Di situ kamu pilih icon kereta alias angkutan umum. Nanti biasanya ada pilihan buat perjalanan naik kereta listrik, busway, dan Jaklingko. Udah deh, Jakarta emang ramah buat angkoters seperti saya. Wkwkwk

Btw begini penampakan icon Jaklingko di Gmaps:


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url