Hey Guys, How's Life?


Haloo... fuuuh... fuuuh... fuuh... lima bulan nggak nulis, jadi banyak
ramat di sini. Oh sama tai toko juga. Yah nggak beda jauh dengan kamar yang ditinggalkan lima bulan tanpa perawatan sama sekali. But I am here, now! 


Lima bulan ini ada cukup banyak hal yang terjadi dalam hidup saya. Beberapa bikin down, beberapa lagi bikin semangat dan memang seperti itulah hidup. Ya, kan? Tapi saya masih bisa bersyukur bahwa kali ini ada kepastian yang datang--meskipun menyakitkan. 


Di awal tahun, saya sempat melangkah dengan percaya bahwa "inilah saatnya menjalani pilihan saya dengan sepenuh hati." Waktunya saya untuk mengusahakan apa yang saya inginkan sekuat tenaga. Mencurahkan seluruh perhatian pada pilihan tersebut. 


Tapi ya, Allah berkata lain. Mungkin menurutnya saya memang tidak akan sanggup kalau harus melalui jalan itu. Mungkin Dia berkata "kamu jangan kesitu, nggak akan kuat. Coba kesini saja deh, yuk." Who knows, kan? Yang jelas Dia tidak akan mengubah takdir tanpa alasan. 


Seenggaknya belokan tajam itu membawa saya pada kesibukan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Atau kalau dilihat dari perspektif lain, justru mungkin kesibukan ini adalah hasil dari apa yang saya inginkan, sebenarnya. 


Soalnya, kalau enggak begitu, apa lagi, dong? Saya memilih mencari penghasilan dari internet dengan menulis dan saat ini saya sudah rutin mendapatkan pekerjaan dari fastwork sebagai penulis artikel. Harusnya ini sejalan, kan? 


Ya... semoga memang begitu. 


Di tengah kesibukan menulis pesanan artikel, saya juga semakin sering bertemu dengan teman-teman. Yup, setelah dua bulan merasakan kegilaan Jakarta, saya memutuskan untuk pulang. Mungkin Jakarta masih belum cocok buat saya sekarang ini. Nggak tahu nanti, wkwkwk. 


Dan menariknya, di dalam circle saya saat ini sedang trending soal pencapaian hidup. Persis seperti quarter life crisis. "Di umur segini masih belum dapet kerjaan yang tetap", "Orang lain main udah sama istri dan anak, kita masih sendiri", "punya privilege tapi nggak bisa dimanfaatkan", dan keluhan lain yang khas dengan QLC tadi. 


Jujur saja, I am done with that shit.  Saya sudah nggak punya energi lagi untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Tapi apa yang mereka rasakan juga nggak bisa saya kesampingkan begitu saja. Toh, perasaan itu nyata adanya. Hanya waktu datangnya saja yang berbeda-beda. 


Ada yang menarik dari keluhan ini, mereka selalu bisa menjadikan kesulitan sebagai bahan tertawaan yang menghidupkan suasana tongkrongan. Apalagi dengan derasnya informasi seperti sekarang, at least, pikiran mereka tidak terlalu terkotak-kotak--meskipun belum sepenuhnya, dan saya pun termasuk diantaranya. 


Namun ngobrol bareng mereka sekarang jadi lebih menyenangkan. Dan saya suka seperti ini. 


Hidup juga bukan soal pencapaian, ada urusan cinta di dalamnya. Dan mungkin buat hal ini, saya agak sedikit kurang beruntung. Wkwkwk. Tapi begitulah, kalau melihat teman-teman yang lain, jodoh bukan sebatas takdir. Ada budaya, keluarga, kebiasaan, ideologi, dan tampang di sana. 


Kalau kamu bisa menyatukan semuanya, atau paling nggak, menoleransi perbedaan diantara semua itu maka jodoh pun bisa didapatkan. Budaya berhubungan dengan keluarga. Keluarga mempengaruhi kebiasaan hidup--yang jelas saja berbeda satu sama lain. Ada keluarga yang bisa mengkomunikasikan apa saja, ada juga yang berkomunikasi dengan cara "spesial". 


Kebiasaan, pada akhirnya, punya pengaruh pada ideologi. Dalam beberapa kasus teman saya, kebiasaan tersebut justru membentuk ideologi dan pola pikir. Lalu semua itu dibungkus oleh tampang yang berperan sebagai "cover" nya. 


Kalau kamu bertemu lawan jenis yang melihat sesuatu dari cover-nya, maka tampang itu harus lah menarik. Kalau nggak, ya siap-siap saja apa yang ada dibalik cover tersebut bakal dinilai dengan teliti. 


Daaaan begitulah ringkasan tentang pelajaran hidup yang datang ke dalam kepala saat saya menulis ini. So, how's life?

Post a Comment

Previous Post Next Post