Resensi Buku Guru Aini: Bagaimana Seharusnya Seorang Guru Menjadi Guru yang Baik

resensi buku guru aini
resensi buku guru aini

Sekitar tahun 2008-2009an, saat film dan buku Laskar Pelangi sedang booming-booming-nya, saya menjadi satu dari mungkin jutaan orang yang membaca buku itu. 14 tahun kemudian, saya membaca buku Guru Aini dengan perasaan yang sama seperti saat membaca buku Laskar Pelangi. Dan itulah sebabnya saya menulis resensi buku Guru Aini ini, agar kamu tau apa yang saya rasakan itu.

Waktu itu saya masih kelas dua SMP, semester dua kalau gak salah ingat. Tiap hari, buku Laskar Pelangi yang di cover-nya ada foto pemeran filmnya saya bawa kemana-mana. Ke sekolah, di rumah, di warung, bahkan pernah saya menginap di warnet bareng temen sambil membaca buku itu lalu membawanya tidur. Ah, begitu cinta rasanya saya dengan buku itu. 


Sebagai remaja dari kota kecil yang serba kekurangan, cerita Rainbow Troops dan Bu Muslimah menumbuhkan rasa optimis, semangat besar, sekaligus idealisme. Ya meskipun masih belum jelas idealisme apa yang muncul, tapi seenggaknya saya tahu bahwa hidup saya bisa berubah. Seperti cerita Ikal dan teman-temannya. 


Petualangan sepuluh orang anak SD di Pulau Belitong itu pula yang bikin saya makin suka membaca buku, khususnya novel. Makin lama, cerita-cerita ajaib di novel makin bisa saya nikmati dan kalau bisa mengambil hikmah dari ceritanya. 


Seiring waktu, perjalanan hidup dan kenyataan membuat semua rasa optimis, semangat dan idealis tadi hilang. Pelan tapi pasti, saya sadar bahwa hidup yang sedang saya jalani adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari atau dilewatkan. 


Mungkin karena itu pula, makin ke sini saya lebih suka membaca Literatur Jepang yang vibe-nya muram, gloomy, kelam, pekat. Buku-buku karya Osamu Dazai, Haruki Murakami, Mori Ogai yang berkutat dalam kehidupan masyarakat Jepang dengan segala bebannya, seakan jadi teman seperjuangan. 


Beberapa kali saya juga membaca buku tentang psikologi, sesuatu yang bisa menyadarkan saya bahwa hidup itu keras dan saya sedang lelah, tapi itu wajar karena semua manusia juga begitu. Tugas saya adalah mencari cara agar tetap bertahan dari hari ke hari dengan alasan yang kecil sekalipun. 


Lalu tibalah kesibukan kerja yang memicu reading slump berkepanjangan. Saya merasa nggak punya waktu banyak untuk menamatkan satu buku dan seolah kehilangan selera. Banyak buku yang saya beli–dengan berbagai tema–tapi nggak ada satupun yang tamat. 

Sinopsis Buku Guru Aini

Hari ini, Minggu 4 September 2022, buku Guru Aini saya buka plastik segelnya. Rasanya cerita Pak Cik bisa mengembalikan semangat membaca saya. Dan benar saja, Cerita setebal 294 halaman itu saya habiskan dalam waktu satu hari kurang. 


“Mantap boi!”


Mungkin begitu Guru Desi Istiqomah yang dijuluki Guru Desi Mal akan memuji saya. Dia adalah tokoh utama dalam buku Guru Aini. Seorang perempuan yang bercita-cita menjadi guru setelah melihat guru matematika SD nya. Dia menolak semua tawaran ibunya untuk kuliah di kota besar atau menerus usaha dagang beras milik ayahnya yang sudah sangat maju. 


Desi remaja bertahan dengan cita-citanya: ingin menjadi guru, kalau bisa di daerah terpencil yang jauh dari kota besar. Untuk itu dia kuliah di universitas khusus pencetak guru matematika yang lulusannya ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia, terutama Pulau Sumatra. 


Desi lulus dengan peringkat cum laude dan dia adalah orang pertama yang menolak privilege untuk memilih penempatan tugas sesuai dengan keinginannya. Dia ingin mengajar di daerah terpencil, karena itu, dia menukar kertas yang berisi daerah penempatannya di kota dengan milik temannya yang berisi daerah terpencil. 


Desi remaja tak pernah menghilangkan keinginannya, persis seperti nama lengkapnya, Desi Istiqomah. Long story short, setelah dihajar habis-habisan oleh mabuk kendaraan dan laut selama satu minggu penuh, Desi tiba di tempat tujuannya, sebuah kampung bernama Ketumbi yang ada di Kabupaten Tanjong Hampar.


Di sini Desi memulai ceritanya sebagai Guru yang idealis, nyentrik, dan terkenal cerdas. Dia punya keinginan untuk mengajar seorang anak cerdas dari kampung karena yakin bahwa kepintaran tak hanya milik orang-orang kota. 


Idealisme dan keyakinan itu bertahan cukup lama untuk kemudian harus dia hilangkan sendiri karena murid genius yang ditunggu-tunggu nggak kunjung hadir. Dari guru penuh semangat yang siap membantu muridnya mengerti matematika, Desi bertransformasi menjadi Guru Desi Mal yang terkenal galak, teguh pendirian, nggak pandang bulu saat memarahi muridnya. Bahkan ada satu orang murid yang pindah sekolah karena enggan belajar dengan Guru Desi Mal. 


Sampai akhirnya dia bertemu Nuraini Binti Syarifudin, seorang anak pedagang mainan kaki lima yang bodoh bukan main. Sejak kelas 4 SD dia sudah kena “kutukan angka biner” di mata pelajaran matematika. Sejarah mencatat, nilai ulangan nya hanya berkutat di angka 0 dan 1 seperti bilangan biner. 


Suatu hari, Ayah Aini jatuh sakit dan nggak ada satupun obat yang bisa menyembuhkannya. Ilmu kedokteran modern, obat tradisional, sampai tabib angkat tangan. Satu-satunya yang Aini tahu, ayahnya menderita penyakit yang masih dipelajari oleh dokter-dokter hingga saat ini. Tapi kalau melihat kondisi yang digambarkan, sepertinya ayah Aini menderita stroke. 


Dari situ, Aini tahu bahwa untuk menyembuhkan ayahnya dia harus menjadi seorang dokter. Sejak saat itu juga Aini yang bodoh matematika meminta bimbingan dan pelajaran dari Guru Desi Mal. Si guru killer yang nggak bisa mengerem mulutnya saat kesal atau jengkel pada muridnya. 


Cerita berlanjut dengan perjuangan Aini memahami pelajaran yang dia terima dari Guru Desi setiap sore setelah berjualan mainan dan cerita Guru Desi mencari cara mengatasi kebodohan Aini. Mau tau lanjutannya? Baca aja bukunya wkwkwk saya jamin, ceritanya seru!

Buku Guru Aini, Semangat, dan Idealisme Dalam Hidup

Seperti yang sudah saya bilang di awal tadi, perasaan yang saya rasakan saat membaca buku Guru Aini sama dengan perasaan ketika membaca Buku Laskar Pelangi Dulu. Ceritanya memicu semangat, memantik idealisme, mendebarkan dada, dan anehnya menimbulkan perasaan yang ganjil. 


Sebagai seorang yang pernah menjadi guru dan kuliah di jurusan pendidikan, saya bisa memahami bagaimana rasa frustasi yang dirasakan Guru Desi saat melihat muridnya bodoh dalam pelajaran matematika. 


Ya dulu saya juga pernah merasa hopeless waktu praktek ngajar di SMP karena banyak sekali murid bebal dan bodoh. Berulang kali dijelaskan masih nggak ngerti, tapi tiap saya tanya mereka bilang mengerti. 


Tapi karena saya juga nggak pandai matematika–malah cenderung benci sama mata pelajaran itu–saya mengerti bagaimana kesulitan yang dirasakan Aini. Setiap melihat angka dan rumus di papan tulis, rasanya kepala saya mau pecah. Jangankan mengerti pelajarannya, membedakan soal dengan penjelasan saja susahnya minta ampun. 


Tapi Aini bukan saya, dia pantang menyerah dan selalu menghadapi kesulitannya sampai bu Desi Mal merasa jengkel karena gagal sebagai guru. Baginya, di balik murid yang bodoh ada sosok guru yang gagal menyampaikan mata pelajaran dengan baik.


Sepengalaman saya, guru harus mampu mentransfer ilmunya dengan cara yang mudah dipahami semua murid di kelas yang dia ajar. Selain itu, guru juga harus tahu setiap kelebihan dan kekurangan muridnya. Karena setiap murid spesial dan unik dengan karakternya masing-masing. 


Karena merasa relate cerita tentang perjuangan guru dan murid dalam buku Guru Aini bisa saya nikmati dengan baik. Bahkan saya sempat ketawa ngekek membaca kekonyolan Aini dan dua orang sahabatnya. 


Di sisi lain, muncul setitik idealisme yang pernah saya bangga-banggakan. Kalau dulu, idealisme ini saya pegang erat-erat dan ingin mewujudkannya, sekarang yaudah-lah-ya, yang penting hidup. Wkwkwk


Tapi jujur, perasaan ganjil nya masih sama seperti dulu. Saya seperti mendapat semangat lagi untuk hidup dengan baik-baik saja. Melewati kegalauan karena hubungan yang gagal dengan kepala tegak, dan berjuang melawan hidup yang nggak adil dengan daya juang setinggi mungkin. Apa ini akan bertahan lama? Who knows~ 


Dan saya sempat berpikir kalau buku ini mungkin akan menjebak murid-murid miskin dengan impian tinggi. Kenapa menjebak? Karena meraih impian buat orang miskin di Indonesia itu mustahil kecuali si pemimpi punya daya juang seluas horizon dan mental sekuat mithril atau mungkin adamantium–bahan untuk membuat tameng Captain America.


Terlalu banyak faktor x yang bisa menghapus mimpi dari murid yang miskin di negeri ini. Dan kalau si pemimpi nggak punya yang dua tadi, dia mungkin bakal jatuh sejatuh-jatuhnya. Well ini masih asumsi belaka berdasarkan pengalaman pribadi. Di luar asumsi ini, buku Guru Aini termasuk buku yang harus kamu baca. Khususnya kalau kamu sedang mencari motivasi untuk meraih sesuatu dalam hidup. Perjuangan Aini melawan amarah Guru Desi Mal, hujan, badai, cemoohan teman-teman sekelasnya bisa jadi pemicu yang baik. 


“Pendidikan memerlukan pengorbanan. Pengorbanan itu nilai tetap, konstan, tak boleh berubah” Desi Istiqomah dalam Guru Aini halaman 7. Kamu bisa mengganti pendidikan dengan sesuatu yang ingin kamu raih–pernikahan, pekerjaan, atau apapun itu!


Pertarungan Desi melawan rintangan demi idealisme nya juga bisa menjadi “rambu-rambu” buat kamu yang idealis. “(aku) Lelah (menjadi seorang Idealis), Laila, tapi tanpa idealisme aku akan lebih lelah. Tanpa idealisme, orang akan hidup dengan menipu diri sendiri dan tak ada yang lebih lelah dari hidup menipu diri sendiri.” Desi Istiqomah dalam Guru Aini halaman 69.


Atau kamu mungkin akan merasa tergugah mendengar ucapan Guru Desi ke Aini soal waktu.


“Karena waktu memberi nasihat terbaik dalam belajar matematika, yakni kesabaran untuk memahami sesuatu, ketangguhan dalam menghadapi kesulitan apa pun, dan obsesi pada presisi, pada presisi tertinggi…


Usia waktu adalah 40 miliar tahun. Selama itu waktu tangguh berkelana di jagat raya, membuka ruang bagi setiap gerakan, memberi kesempatan bagi setiap harapan, menarik batas bagi setiap kehidupan. Waktu memberi kita pemahaman, kebingungan, kegembiraan, penyesalan. Waktu membangun, menumbuhkan, memelihara, merengkuh, menyekap, membinasakan, meninggalkan jejak pada setiap sendi kemanusiaan dan kebudayaan. Waktu menantang pertempuran yang takkan pernah kita menangkan. Karena, waktu waktu adalah hukum pertama kehidupan.”


Nah itulah tiga quotes buku Guru Aini yang cukup membekas di pikiran saya dan saya pikir akan berguna buat kamu, orang-orang penuh semangat dan memiliki keyakinan tinggi untuk meraih sesuatu. Begitulah Resensi Buku Guru Aini dari saya, seorang sarjana pendidikan yang nggak mau menjadi guru karena tahu seperti apa guru yang baik. Dan bagi saya, Guru Desi adalah salah satu contoh guru yang baik itu. 


Nah setelah membaca resensi buku Guru Aini ini kamu jadi pengin baca bukunya juga, silakan tulis di komentar atau bisa hubungi saya langsung di Instagram @putrabuku. Atau kalau mau cari yang lain bisa cek katalog nya di website putrabuku.web.id. Nanti saya bantu carikan bukunya, ya. Tenang ada diskon spesial kok, bilang aja kamu abis baca tulisan ini saat pesan, yaw~

Post a Comment

Previous Post Next Post