Apakah Cita-cita Hanya Akal-akalan Saja?

Apakah cita-cita hanya akal-akalan saja?


Sebelumnya saya pernah mengatakan bahwa saya ini bagian dari golongan yang kurang bisa mengusahakan cita-citanya. Seenggaknya ada cukup banyak cita-cita yang saya buang sampai saat ini. Dan yang berhasil dicapai hanya soal punya rambut gondrong.

Menurut ingatan sekelebat yang bisa saya tangkap, waktu kecil dulu—mungkin sebelum masuk SD—saya dan kawan-kawan pernah mengatakan ingin menjadi supir angkot. Lho serius, ini merupakan pikiran terjauh yang bisa dicapai oleh bocah berusia lima tahun.

Alasannya pun sederhana saja, jadi supir angkot itu enak. Bisa jalan-jalan gratis setiap hari. Nggak perlu ngumpulin uang buat ongkos dan jajan. Yang ada malah jalan-jalan sambal dapat uang, kan. Yah tahun 2000 awal, ongkos angkot di Ciamis memang Cuma 500 perak. Namun uang jajan saya nggak lebih dari 500.

Artinya, kalau mau naik angkot, saya nggak bisa jajan. Begitu pun sebaliknya. Dan kamu pasti tahu, apa yang saya pilih: tentu saja jajan. Toh sebelum SD, area jajahan saya belum terlalu luas. Sebatas kebun belakang rumah, situ yang jaraknya tiga menit dengan jalan kaki, atau main ke rumah teman di RW sebelah. Naik angkot bukan lah prioritas kala itu.

Kelas enam SD, cita-cita itu tentu sudah menguap. Karena saya sudah tahu, jadi supir angkot ternyata lebih dari jalan-jalan gratis. Dan “keren” nya anak dua belas tahun tentu berbeda dengan anak enam tahun. Di kelas lima, saya sudah mulai belajar gitar dan mengenal dunia musik. Otomatis, cita-cita yang muncul di kepala ya jadi gitaris.

Ditambah, tahun 2006-2007 industri musik Indonesia lagi bagus-bagusnya. Ada Ungu, Dewa, Peterpan, Radja, Kerispatih, dan band-band pop lainnya. Saya menyaksikan penampilan mereka di TV. Bayangkan, Enda dan Onci masih muda kala itu. Lukman dan Uki juga sedang ganteng-gantengnya. Duet Moldy dan Ian lagi naik daun. Andra pun berada di fase gagahnya. Saya yang baru belajar gitar sulit buat memalingkan mata dari mereka.

Ditambah waktu itu saya udah mulai latihan band di studio, meski pun nggak pernah naik panggung beneran. Namun dengan megang gitar listrik pun saya merasa sudah jadi gitaris keren nan handal. Tak kurang delapan tahun saya bergelut dengan dunia musik.

Dengan modal sering latihan waktu SD, di SMP saya jadi lebih pede. Kalau teman-teman yang lain baru mau belajar gitar, saya sudah lancar memainkan lagu-lagu hits saat itu. Panggung SMP yang panjangnya gak lebih dari lima meter jadi tempat saya unjuk kebolehan tiap tahunnya.

Yah nggak bisa dipungkiri, meski nggak ganteng-ganteng banget, tapi saya bisa lebih pede karena sering disebut “cowok jago main gitar”. Dulu mah nggak kaya sekarang, gitar itu eksklusif, nggak semua orang bisa dan mau memainkannya, apalagi tampil di atas panggung.

Di masa putih biru ini juga saya mulai mengusahakan cita-cita jadi musisi dengan membentuk band bernama Chitos dan rutin manggung di sekolah lain. Bahkan saking bangganya sama ini band, saya dan anak-anak sampai bikin blog pribadi yang mengulas Chitos di dalamnya.

Jiwa yang muda, idealis, ingin tampil beda, dan sok punya prinsip, bikin kami jadi band kere hore. Nggak masalah kere, yang penting bisa manggung. Kami ikhlas dibayar senyum, asal penonton terhibur. Ini serius. Kami nggak terlalu mementingkan honor kok.

Chitos pernah dibayar pake nasi bungkus sisa saat main di event hari Olahraga Nasional salah satu SMA favorit di sini. Nggak tanggung-tanggung, kami dapat sepuluh nasi bungkus lebih. Kami juga pernah dibayar “nuhun” saat satu panggung dengan Bandung Inikami Orcheska. Padahal posisinya kami jadi band pembuka mereka, yang tugasnya bikin penonton panas.

Di acara supporter bola pun sama. Waktu itu mereka sedang ulang tahun, bikin panggung di alun-alun. Kami turun menghibur ratusan anggotanya di malam hari, tanpa bayaran sepeser pun. Hebat atau nekat? Nggak tahu. Tapi rasanya kalau dipikir lagi sekarang, kami termasuk manusia bego, sih.

Chitos selesai saat anggotanya sibuk dengan perkuliahan. Kami berpencar, mencari ilmu di perantauan sesuai dengan tuntutan dan keinginan orang tua. Saya ke tasik, basisnya di Ciamis, gitarisnya di Bandung, vokalis di Tangerang, drummer di Yogya.

Waktu libur yang terbatas dan kadang nggak bareng, bikin jadwal latihan kacau balau. Lebih dari itu, kami jadi nggak bisa nerima tawaran manggung dengan leluasa. Terlebih vokalis kami sibuk dengan pekerjaannya. Yah begitu lah, idealisme dan kebanggaan masa muda nyatanya membuat jalan kami makin terjal.

Cita-cita selanjutnya yang saya biarkan menguap adalah menjadi penulis. Well, nggak sepenuhnya menguap, mungkin lebih menyesuaikan saja. Apalagi setelah lulus kuliah, saya sudah mulai mengenal dengan prinsip Idealis-realistis. Kerjanya di bidang kepenulisan (idealis) tapi dengan pekerjaan yang hasilnya menjanjikan.

Artinya saya nggak memilih jalan terjal seperti temen-temen penulis lain. Yang rela bertahan dengan uang sedikit di awal-awal masa belajar, lalu menikmati keberhasilannya kelak. Saya sih lebih milih nulis sambi dagang. Menulis jadi pemasukan sampingan dan berdagang jadi yang utama.

Kita lihat saja lima atau sepuluh tahun kemudian, masih kah saya berusaha mengejar cita-cita yang terakhir ini?

 Lagipula setelah cukup banyak cita-cita yang nggak tercapai, saya kok jadi mikir apakah ini hanya akal-akalan saja?

Next Post Previous Post
1 Comments
  • fanny_dcatqueen
    fanny_dcatqueen 30 September 2021 22.15

    Aku juga menganggab itu akal2an kok mas :D. Sekian banyak cita2ku zaman dulu, satupun ga ada yg tercapai :p. Bhaaay semuanya :D. Yg ada malah kerja di bidang yg aku ga sukai blaaasss, walopun skr akhirnya resign, dan malah memilih menghasilkan uang dari rumah :D.

    Mungkin cita2 itu hanya utk penyemangat kali Yaa. ATO bisa jadi kita2 ini yg kurang kuat tekadnya untuk mencapai cita2 sendiri :p?

Add Comment
comment url